SIBUYUANG BINGUANG
Disini, di sekolah yang gue cintai
ini, walaupun sebenarnya gue lebih
mencintai kantin sekolah ini, tapi untuk melindungi profesi, gue terpaksa
mencintai sekolah ini. Tepatnya di SMAN 1 Landbouw Bukittinggi, tempat dimana
kisah-kisah cinta, pertemanan, pelajaran, dan hal-hal freak lainya dimulai.
Katanya sih, sekolah gue
ini pernah berturut-turut mendapatkan hasil nilai Ujian Nasional tertinggi
untuk beberapa tahun dan merupakan sekolah yang terpandang di kota ini, kecuali
kalo dihalangin pantatnya Juulia Peres, jadi ga bisa di pandang. Salah satu
alumni
SMA ini katanya pernah ada yang jadi Direktur muda di Jakarta, trus ada yang kuliahnya keluar negri, bahkan murid tamatan tahun ini dikabarkan ada yang skor di bimbelnya melebihi 900 padahal skor tertinggi fakultas-fakultas di Indonesia cuma 860 yaitu Fakultas Kedokteran UI. Sementara, bagi murid yang kurang waras ternyata jadi pelaku pengeboman kantor wakil kesiswaan sekolah ini doang.
SMA ini katanya pernah ada yang jadi Direktur muda di Jakarta, trus ada yang kuliahnya keluar negri, bahkan murid tamatan tahun ini dikabarkan ada yang skor di bimbelnya melebihi 900 padahal skor tertinggi fakultas-fakultas di Indonesia cuma 860 yaitu Fakultas Kedokteran UI. Sementara, bagi murid yang kurang waras ternyata jadi pelaku pengeboman kantor wakil kesiswaan sekolah ini doang.
Nama gue Zikri
Ramadhani, biasa di panggil Rama, gue dari kelas X8, gue sebenarnya lebih
ganteng dari Cristiano Ronaldo, hanya saja kalau mukanya di serut pake serutan
kelapa. Banyak yang bilang kalo gue itu sedikit idiot. Ntah karena gue sering
mangap waktu jalan, ntah karena hobbi gue yang sering boker, ato mungkin karena
Anang uda kawin sama Ashanty?
Pelajaran di sekolah ini ga susah-susah
banget, semuanya bisa diatasi dengan baik dan lancar. Asal memperhatikan apa
yang di terangin guru aja, pasti nilai ga bakalan ada yang di bawah KKM.
Sayangnya, waktu gue dikelas sebagian besar digunakan untuk tidur, pacaran, dan
merancang eksperimen “upil manakah yang
lebih besar, lobang idung kanan, ato yang kiri?” .
Kalo ga tidur sambil
gigit pensil, paling gue cuma mencoret-coret catatan dengan gambar guru yang
lagi ngajar.
Palingan kalo emang
yang belajar serius cuma pagi-pagi dan itupun cuma 1jam pelajaran doang,
selebihya gue permisi buat cabut, ato pergi boker. Ntah gimana caranya gue
permisi buat cabut, gue ingat pagi itu waktu lagi belajar kimia, bel berbunyi,
tanda jam pelajaran pertama telah selesai. Gue mangut-mangut sebentar dan meju
ke depan kelas.
‘buk, permisi bentar buk’,
dengan tampang yang patut untuk dikasihani.
‘mau
kemana kamu Rama?’
‘ada
panggilan dalam, yang tak bisa
tertahankan buk!’, gue pura-pura mau booker dan untung ibu itu adalah guru yang
cukup pengertian.
‘maksud
kamu?’
‘ujungnya uda nongol ni buu.’
‘PERGI SEGERA!!!’
‘Siap buk!’
Dengan tampang bahagia gue keluar
kelas, walopun sebenarnya gue cuma pengen cabut doang. Gue yakin, kalo
guru-guru uda baca tulisan gue ini, mereka ngga akan memperbolehkan gue cabut
lagi. Pernah waktu itu gue buat peribahasa.
“Sekolah tanpa CABUT itu, ngga seru”
dan gue mengusulkan kepada wakil
kesiswaan untuk memajang peribahasa itu di lobby, hasilnya gue di ceramahi
habis-habisan.
Semakin hari semakin banyak
peraturan di sekolah ini. Baru-baru ini ada peraturan ngga boleh makai jaket
atau sweater saat di sekolah. Trus peraturan lain, ga boleh buang sampah
sembarangan, buang upil sembarangan, nsampai buang boker sembarangan. Mungkin
tahun depan bakalan ada peraturan baru, yaitu ngga boleh bawa anjing ke
lingkungan sekolah. (lagian siapa juga kali yang mau bawa anjing ke sekolah?!)
Saat-saat gue di
kelas X ini, hidup gue bagaikan GEMBEL. Kerjaan gue tiap hari main dan pacaran
melulu. Giliran lagi ikut kelas, bawaannya malah pengen cabut, permisi ke- -satpam
buat foto copy ke luar sekolah, eh ternyata melenceng ke tempat tongkrong biasa.
Kesekolah juga ngga pernah siap : pena lupa bawa, buku juga pasti ketinggalan. Kalaupun
ada yang dibawa, palingan cuma buku komik One Piece yang akan gue baca di
kolong pas gurunya lagi komat kamit dia depan kelas. Intinya, kehidupan SMA gue
ini benar-benar seperti kehidupan gelandangan, lengkap dengan baju lusuh,
celana pensil, rambut pirang dan muka penuh dengan codet.
Tapi, bukan hanya gue
yang jadi gelandangan, masih ada sekitar 20 orang lagi temen gue yang kaya
gitu, diantaranya ada si Tommy, Caaik, Godok, Heru, Dhani, dan lain-lain yang
ngga bisa gue sebutin satu persatu nama mereka. Caaik, temen sekelas gue yang
juga memilih hidup jadi gelandangan dan juga memilih untuk jadi orang bego kaya
gue. Bukannya gue ngga mau di samain, tapi karna dia orangnya juga baik, yaa
boleh lah. Pernah waktu lagi belajar (baca=molor) di kelas, gue membuka rahasia
gue yang ngga pernah ada yang tau.
Caaik lagi
molor, tiba-tiba gue datang kaya Superman ngejar bendi.
‘AIK!’, tereak di telinga dia. Kaget setengah
Idup, dia marah-marah ke gue
‘SETAN
ANG! TAKAJUIK DEN!’, dia marah-marah. Gue ngakak.
‘Aik, den punyo rahasia ciek, tapi
jan kecek-kecekan ka urang ndak.’ kata gue sambil berbisik di dekatnya.
‘Apo tu?’
dia balik nanya.
‘Tapi jan kecek-kecekan ka urang
ndak, beko hilang reputasi den sebagai artis SMANSA beko’
‘Iyo, iyo. Apo rahasio ang?’, katanya
penasaran. Sambil liat kiri kanan untuk memastikan ngga ada orang lain yang-
mendengar, gue berbisik ke Caaik.
‘AIK,
SABANANYO DEN KO DEK ANG EH, SABANANYO ADEN KO CEWEK, AIK.’ Kata gue sambil
berbisik. Seakan ngga percaya, dia nabok gue pake buku.
‘APAK
ANG!’, dia marah-marah kaya nenek-nenek yang ngga di kasih susu 2 bulan.
Trus ada seorang
lagi, temen sekelas gue namanya Iciit. Cewe’ ini memang polos, tapi kadang
kepolosannya itu membuat kita sering menghela nafas. Pernah waktu itu, gue,
Ipung, Mak El lagi cerita-cerita tentang gosip-gosip yang beredar di sekolah
saat itu, eh si Icit malah diem doang. Gue mencerna arti diemnya Iciit ini
(mungkin dia terhenyut mendengar cerita gosip kami ini), tiba-tiba Iciit nengok
ke gue dan bilang ‘eeeeeeeh, paruik siti
litak aaaaa!’, sangat tidak nyambung sekali, kawan.
Satu hal yang bikin
gue ngga percay dengan keadaan gue sekarang ini. Gue marupakan gelandangan yang
banyak bakat (azie). Dari nyanyi, main gitar, nulis cerita, ngelawak, jadi
orang bego, sampai-sampai gue juga merupakan Juara Harapan 1 Ngeden Boker Tercepat
dengan waktu 0,568 second, pernah terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti
World Kerupuk Palembang Eating Championship 2008 di London yang pada akhirnya
kalah dalam babak penyisihan oleh rival yang 3 bulan ngga makan-makan.
Dengan
prestasi-prestasi gue itu, gue bingung, mungkinkah gue ini gelandangan gadungan?
Bukan hanya polisi yang gadungan, tapi sekarang ada gelandangan gadungan. Kalo
polisi gadungan uda biasa, tapi kalu gelandangan gadungan, itu ngga biasa.
Mungkin tahun 2020 akan di buat film “Bukan
Gelandangan Biasa”. Film ini bercerita tentang seorang bocah gila dan idiot
di sekolahan yang menjadi gelandangan ketika dia tau kalo Agnes Monica itu-perempuan
(emang perempuan bego!). Di take 1, gue keluar sebagai Si Buta dari Goa Hantu.
Gue jalan-jalan sama monyet gue yang gue kasih nama Doyok. Lagi jalan-jalan,
gue ketemu Agnes Monica lagi pacaran sama Mbah Surip. Gue gondok sebesar biji
durian, dan akhirnya gue berubah menjadi anak sekolahan. Di take 2, gue keluar
sebagai anak sekolahan yang kebingungan. Trus ketemu lagi Sama Agnes Monica
yang baru keluar dari rumah sakit. Dan ternyata dia berganti kelamin menjadi
perempuan. Dan akhirnya gue jadi Gelandangan. Filmnya pun TAMAT.
Satu hal yang membuat
gue betah di sekolah ini. Yaitu, kakak kelas gue yang cantik-cantik. Agnes
Monica aja kalah. Ada sebuah geng di sekolah gue ini, kalo ga salah namanya
LADIANG (identitas di samarkan), isinya cewe-cewe cantik, tapi banyak rumor
mengatakan kalo mereka itu cewe’ jadi-jadian, ada yang bilang kalo mereka itu
siangnya aja yang cewe’, kalo malam cowo’! Berbanding terbalik sama
bencong-bencong Jenjang Gudang. Tapi biarlah mereka jadi-jadian, gue ngga
peduli juga. Yang gue pedulikan cuma, setiap hari bias cuci mata. (Setan merah
keluar dari badan gue). Pernah waktu itu, salah seorang anak Ladiang tertangkap
basah sedang pup di wc cewek’! (bukan, bukan, bukan, bukan gue yang menangkap
tersangka itu basah-basah di WC ! Sumpah! Itukan gossip yang beredar aja kok.)
Masih banyak
kisah-kisah freak lainnya di sekolah ini. Masalahnya edisi ini muat 1200 kata
doang. Mau gmana lagi, harus gue akhiri. Salam Bego.
by : Zikri Ramadhani